catastrophe dan cita-cita
August 11, 2008
Minggu pagi, gw baca artikel Kompas yang bener2 menarik minat gw karena berisi tentang perubahan besar2an pada negara2 amerika latin seperti bolivia, venezuela, paraguay, dan nikaragua.
Perubahan yang gw maksudkan adalah major shift dalam peta percaturan politik negara2 tersebut, yang awalnya dikuasai oleh partai2 politik besar yang tidak pro rakyat dan terkesan feodal bawaan dari penjajahan berkepanjangan (kira2 350-400 tahun) lamanya menjadi hampir satu negara dengan satu partai mayoritas.Hal ini disebabkan kejenuhan rakyat terhadap elite2 politik yang hanya menguntungkan partai dan kroni yang kelakuannya mirip dengan penjajah mereka terdahulu.
Sampai akhirnya datanglah satu masa, satu per satu di negara2 tersebut partai politik yang murni berhaluan rakyat. Dipimpin satu orang berani dan telah mengalami sendiri kepahitan itu, dalam waktu cepat partai ini menguat dan semakin menunjukkan keunggulan di atas partai2 lainnya. Dan kemenangan pemilu hanyalah masalah waktu. Demokrasi menunjukkan dirinya yang tidak terpengaruh akan kekuatan murni. Setiap suara mewakilkan satu harapan.
Gw ga akan membahas masalah ideologi yg mereka pakai. atau kebijakan apa yg mereka ambil setelah mereka berkuasa. Yg pengen gw katakan, adalah masih ada harapan bagi kita. Untuk mengubah pemerintahan negara busuk ini menjadi lebih baik untuk semua.
Waktu kecil, gw pikir kekacauan global akibat global warming sulit untuk terjadi, karena kelembaman alam untuk memperbaiki diri sendiri cukup tinggi. Tapi sekarang yang gw pikir, katastrofe ini hanyalah soal waktu. Karena gw percaya sistem alam ini bergerak dalam sebuah loop yg memiliki batas terhadap kerusakan yg bisa dihadapi dengan kemampuan memperbaiki diri sendiri. Begitu batas itu terlewat, yang ada adalah loop menuju kehancuran yg tak tertahankan.
Dulu juga gw pikir kehancuran indonesia hanyalah sebuah pikiran awang2, fiksi ilmiah, dan tidak mungkin terjadi. dan sekarang gw percaya indonesia gw berada dalam loop yang tidak jauh berbeda dengan loop kehancuran dunia akibat global warming.
hancur tidaknya kita, ada pada tangan kita sendiri.
Pencerahan
August 5, 2008
nggak ada satu pun manusia yang tidak menderita di dunia ini. (Buddha)
nggak ada. bahkan orang2 yang gw pikir selalu merasa bahagia, nyaman, dalam kata lain, "baik-baik saja", tidak selalu sebaik kelihatannya.
liburan gw yang lumayan singkat ini banyak nunjukin ke gw tentang pelajaran itu.
orang2 terdekat gw, kerabat, dan temen yg jauh. tidak ada yang bahagia sepenuhnya.
bisakah kita bahagia total?
gw pikir, tidak akan pernah. karena hidup satu orang selalu berkaitan dengan hidup orang lain, disaat yg satu memperoleh kesenangan, pada saat yg sama orang lain menderita. kita semua terhubung melalui "benang" yg tak tampak, yg menyebabkan roda kehidupan ini berjalan dengan semestinya.
dengan semestinya berarti: bahagia dan tidak bahagia berada dalam 1 keping mata uang yang sama.
lalu pantaskah satu orang menyakiti orang lain karena merasa tidak bahagia?
sehingga dia merasa orang lain kurang banyak mendapatkan "kekurang bahagiaan" yg dia rasakan?
padahal semua orang pada dasarnya merasakan hal yg sama?
padahal saat dia menyakiti orang lain, yg sesungguhnya dia sakiti adalah dirinya sendiri?
kita semua satu. sama.
manusia paling tidak sempurna dan menderita.
sekaligus paling sempurna dan bahagia.
Satu keping yang Sama.